Ilustrasi di Transportasi Umum Penuh menjaga ketenangan
Daftar Isi

Mungkin kamu pernah bertanya-tanya, mengapa kita harus menjaga ketenangan di transportasi umum? Padahal kita sedang bepergian dengan teman-teman dekat, dan pembicaraannya sangat seru, ingin ketawa lepas.

Melalui post ini, kita diajak untuk bersama-sama merenungkan alasan mengapa suara harus kita jaga tetap pelan saat bepergian dengan angkutan umum.

Disclaimer

Semua pembahasan di bawah adalah berdasarkan sudut pandang penulis sebagai pengguna transportasi umum. Penulisan post ini dimaksudkan untuk menimbulkan kesadaran di antara pengguna transportasi umum mengenai ketenangan dalam ruang angkutan, namun bukan sebagai pengganti nasihat profesional di bidang transportasi, pengendalian kerumunan, atau hukum dan kebijakan publik.

1. Apakah Wajib Secara Aturan?

Saat ini, instruksi menjaga ketenangan di bus, kereta, atau moda transportasi lainnya hanya sekadar imbauan. Percakapan tetap boleh dilakukan selama tidak mengganggu keamanan atau kenyamanan penumpang, serta tidak menyamarkan pengumuman dalam angkutan.

Teriakan juga boleh dilakukan jika dalam keadaan darurat sebagai pencegahan atau sinyal minta tolong, misalnya saat menjadi korban kejahatan, atau keadaan darurat lainnya.

Larangan Berbicara Pernah Berlaku

Pada saat pandemi COVID-19 lalu, Kementerian Perhubungan pernah mengeluarkan pembatasan berbicara atau menelepon selama perjalanan angkutan umum dengan tujuan menekan penyebaran penyakit tersebut. Aturan ini tertera dalam berbagai surat edaran dari Kemenhub selama pandemi, di mana larangan terakhir tertera pada Surat Edaran Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor SE 39 Tahun 2022.

Saat ini protokol tersebut sudah tidak berlaku karena tidak sedang dalam masa pandemi. Kita cukup berbicara seperlunya dan menjaga ketenangan selama perjalanan.

2. Menjaga Ketenangan: Bukan Sekadar Menahan Berbicara

Selain tetap mengontrol suara saat berbicara, ada beberapa hal lain yang dapat kita lakukan agar ketenangan tetap terjaga:

  1. Tidak berlari-lari atau melakukan aktivitas fisik lain yang dapat menyebabkan kegaduhan
  2. Menggunakan masker dengan benar saat sakit batuk-pilek dan menjaga agar suara bersin dan batuk tidak terlalu kencang
  3. Tidak mengaktifkan speaker besar HP atau perangkat saat melihat video, mendengarkan lagu, atau berbicara lewat telepon.

3. Pahami Pentingnya Menjaga Ketenangan

a. Menghormati Kenyamanan Setiap Penumpang

Masing-masing penumpang berhak mendapatkan kenyamanan. Salah satu bentuknya adalah suasana kabin yang cukup tenang.

Dalam perjalanan dalam kota maupun antarkota, banyak penumpang yang memanfaatkan waktu untuk tidur. Ada juga yang mengisi waktunya dengan membaca, belajar, atau bekerja.

Suara obrolan yang keras atau musik yang disetel tanpa earphone dapat sangat mengganggu aktivitas mereka yang bermanfaat, sedangkan mereka sendiri tidak mengganggu kita.

Mencegah Konflik Antarpenumpang

Ruang yang sempit dan padat di dalam transportasi umum sering kali membuat penumpang menjadi lebih sensitif. Terlebih di tengah kota, di mana masing-masing penumpang dapat membawa beban besar dari pekerjaan masing-masing. Tidak sedikit yang pergi atau pulang kerja dalam keadaan penuh tekanan dari tempat kerjanya.

Mengabaikan etika dasar seperti berisik atau menerima telepon dengan suara keras dapat menjadi pemicu kesalahpahaman bahkan percekcokan antarpenumpang yang merusak suasana perjalanan.

Ilustrasi penumpang kereta pulang kerja by Faisal (IG @Photobapak) on Pexels
Ilustrasi suasana padatnya stasiun kereta saat pagi hari. Foto oleh Faisal (IG: @Photobapak) melalui Pexels

b. Mendukung Konsentrasi Pengemudi

Supir atau masinis membutuhkan fokus penuh untuk menjalankan armada bus atau kereta, mengawasi jalur, mendengarkan sirine darurat, atau mengatasi gangguan yang tiba-tiba muncul.

Suasana bising dalam kabin (selain suara mesin) dapat memecah konsentrasi, bahkan memicu kelelahan mental pengemudi.

c. Pengumuman Dapat Terdengar Jelas

Sebagian besar transportasi modern seperti Transjakarta, KRL, atau MRT mengandalkan sistem pengumuman suara terpusat untuk menginformasikan pemberhentian berikutnya, transit, hingga informasi keselamatan.

Suasana ruang kabin yang berisik dapat menyamarkan isi pengumuman, sehingga informasi yang benar tidak tersampaikan. Akibatnya, penumpang bisa turun atau transit di tempat yang salah.

d. Menghargai Penumpang Difabel dan Lansia

Penumpang difabel atau lansia, terutama yang memiliki gangguan penglihatan, sangat mengandalkan pendengaran mereka untuk mengetahui situasi dan informasi perjalanan. Suasana yang terlalu gaduh dapat membingungkan mereka, karena kesulitan mengakses nomor rute dan posisi angkutan serta situasi perjalanan saat ini.

e. Mempermudah Pencegahan dan Pelaporan Kejahatan

Kepadatan dalam transportasi umum adalah ruang yang sangat mendukung terjadinya tindak kejahatan. Peluang ini bertambah besar ketika suasana kabin gaduh.

Pencegahan dan pelaporan kejahatan bukan hanya tanggung jawab penyedia layanan transportasi, tapi juga tanggung jawab sesama penumpang.

Kebisingan Menyamarkan Teriakan Minta Tolong

Dalam suasana hening, teriakan tegas “Stop!”, “Jangan pegang-pegang!”, “Copet!”, atau “Tolong!” dapat dengan cepat dikenali oleh penumpang sekitarnya, sehingga penumpang lain dapat dengan sigap memberikan pertolongan atau melaporkan si pelaku ke petugas.

Suasana berisik di antara penumpang berpeluang menyamarkan teriakan tersebut. Penumpang sekitarnya bisa saja lebih lambat untuk memahami sinyal minta tolong. Bahkan, orang dapat mengira permintaan tolong tersebut adalah bercanda.

Suasana Ribut Menciptakan Jalan Kabur yang Ideal Bagi Pelaku Kejahatan

Saat korban berteriak di tengah suasana sepi, semua mata akan langsung tertuju pada titik suara tersebut. Pelaku kejahatan akan langsung tersorot sehingga mereka tidak punya tempat untuk “bersembunyi dalam keramaian”.

Ini dapat membuat pelaku panik, sehingga mereka sering kali salah tingkah, menjatuhkan barang bukti, atau mati kutu. Pelaku lebih mudah diringkus dan diadili berdasarkan barang bukti.

Sebaliknya, jika di antara penumpang sendiri bising, fokus korban maupun penumpang lain dapat teralihkan. Pelaku dapat menjalankan aksinya dengan lebih tersembunyi, sedangkan korban tidak sadar atau tidak sempat minta tolong. Penumpang sekitar menangkap sinyal minta tolong lebih lambat. Pelaku dapat membaur di tengah-tengah kerumunan penumpang dan punya cukup waktu untuk kabur tanpa teridentifikasi.

4. Menghadapi Penumpang yang Tidak Menjaga Ketenangan

Di transportasi umum, menghadapi penumpang yang tidak menjaga ketenangan perlu cara yang tepat agar tidak memicu percekcokan atau pertengkaran. Sebagai penegur, kita pun tidak boleh terpancing emosi dan marah-marah, karena hanya akan menimbulkan keributan lainnya.

a. Tegur Langsung dengan Sopan

Jalan pertama bukanlah memviralkan ke media sosial, tetapi dengan menegur langsung si pelaku kebisingan.

  • Awali teguran dengan kata “maaf”, walaupun sebenarnya yang harus minta maaf adalah si pelaku karena mengganggu kenyamanan umum.
  • Lanjutkan dengan menyebutkan gangguan yang ditimbulkan.
  • Akhiri dengan solusi.

Mengambil tindakan memviralkan sebelum menegur atau melaporkan ke petugas hanya merendahkan harga diri si pelaku tanpa memberikan edukasi yang nyata.

Contoh Teguran

  • Maaf Pak/Bu, suaranya agak mengganggu penumpang lain. Boleh tolong agak dipelankan?
  • Maaf Mas/Mbak, suara videonya agak mengganggu. Boleh tolong gunakan earphone atau pelankan suaranya?
  • [Untuk kasus anak berisik] Maaf Pak/Bu, teriakan anaknya agak menutupi pengumuman. Boleh tolong ingatkan anaknya untuk lebih tenang?
Ilustrasi penumpang yang melakukan edukasi kepada penumpang anak-anak
Ilustrasi penumpang yang melakukan edukasi kepada penumpang anak-anak. Foto oleh SAM MAJID melalui Pexels

b. Laporkan ke Petugas

Petugas memiliki wewenang penuh untuk melakukan penertiban dalam armada.

  • Cari petugas terdekat
  • Laporkan kebisingan secara rinci. Misalnya: “Penumpang laki-laki di bangku prioritas sana, yang baju kuning, memutar video secara keras dan mengganggu. Tolong bantu tegur ya.”

Petugas akan menegur penumpang tersebut secara formal. Umumnya, teguran petugas lebih didengar dan ditaati.

c. Pindah Ruangan

Cara ini dapat dilakukan di kereta komuter atau bus gandeng / tempel (articulated bus). Ini sebagai jalan terakhir apabila si pelaku mengulangi perbuatannya bahkan setelah petugas menegurnya.

Penutup

Menjaga ketenangan dalam transportasi umum adalah kewajiban setiap penumpang, demi kenyamanan perjalanan dan kemudahan mendapatkan pertolongan saat terjadi sesuatu yang darurat, seperti saat menjadi korban kejahatan atau insiden lain dalam kabin. Memelihara ketenangan juga dapat dilakukan dengan menegur penumpang lain yang menimbulkan kebisingan, tentunya dilakukan dengan cara yang tepat agar tidak memunculkan keributan lain.