Mengemudi Tengah Malam: Tidak Semua Orang Cocok?
Banyak rencana perjalanan menyarankan berangkat sekitar pukul 12 malam, terutama untuk perjalanan jarak sangat jauh. Ini berarti supir harus mengemudi dari tengah malam hingga pagi.
Saya pun tidak sepenuhnya kontra dengan perjalanan malam. Beberapa itinerary yang saya buat di blog ini justru menyarankan untuk berangkat malam dengan alasan mengejar jadwal tertentu.
Saran mengemudi tengah malam memang masuk akal, tetapi sering kali disampaikan seolah berlaku untuk semua orang. Padahal, kemampuan setiap pengemudi dalam menghadapi perjalanan malam bisa berbeda.
1. Alasan Orang Memilih Berangkat Tengah Malam
Tiba di Tujuan Pada Pagi Hari
Salah satu pertimbangan orang memilih perjalanan tengah malam adalah untuk memungkinkan mereka tiba di kota tujuan sebelum jam tertentu.
Contohnya jika ada perjalanan dinas mendadak ke Semarang, orang dapat memilih untuk berangkat pukul 12 agar dapat tiba pukul 6-7 pagi, kemudian bersiap-siap untuk bekerja.
Lalu Lintas Lebih Lengang
Umumnya, lalu lintas perkotaan pada siang hari lebih padat, sehingga menghambat laju kendaraan. Jakarta adalah contoh umum dari kemacetan siang hari yang rutin. Contoh lain adalah Lintas Timur ruas Palembang – Betung.
Walaupun dalam kasus tertentu, lalu lintas malam hari lebih macet. Contohnya saat arus mudik dan arus balik Lebaran.
Perjalanan malam hari berpotensi lebih lengang karena sebagian besar pengguna jalan sedang beristirahat.
Udara Lebih Sejuk
Bagi yang sering melintas di Riau, mungkin hal ini sangat relevan. Udara panas terik khatulistiwa bisa membuat perjalanan siang hari menjadi kurang nyaman.

Kebutuhan minum pun meningkat. Padahal di sisi lain, penumpang dan pengemudi mungkin menahan minum agar tidak sering berhenti ke toilet.
Perjalanan malam hari menawarkan suasana yang lebih sejuk. Minum dapat lebih dikontrol. Suhu AC dapat dinaikkan, sehingga kerja mesin jadi lebih ringan.
2. Tubuh Setiap Orang Berbeda
Hal ini terkadang luput dari pertimbangan saat perencanaan road trip malam: bagaimana karakteristik tubuh saya? Padahal perjalanan malam bukan hanya soal keberanian, tapi juga kekuatan fisik.
Kebiasaan sehari-hari kita dapat menentukan kekuatan dalam trip malam hari. Bagi yang sering bekerja sampai larut malam, mereka berpotensi lebih kuat mengemudi tengah malam.
Namun ada juga yang mudah mengantuk setelah jam 22. Mungkin dalam keseharian, seringkali mereka tidur cepat, jam 21 sudah tidur.
3. Sering Dilupakan: Aktivitas Sebelum Berangkat
Banyak pekerja baru selesai bekerja pukul 17.00. Perjalanan pulang mungkin membutuhkan waktu 1-2 jam. Sesampainya di rumah, langsung makan, beres-beres, lalu berangkat. Lupa istirahat.
Padahal, tubuh sudah aktif sejak jam 5 pagi. Ditambah lagi mengemudi/transit saat pulang-pergi kerja, dan aktivitas pekerjaan yang menguras mental. Saat berangkat, tubuh sudah dalam keadaan kurang segar.
4. Mengantuk Bisa Datang Kapan Saja
Kantuk dapat muncul kapanpun saat mengemudi. Apalagi memasuki kawasan sepi dan gelap. Tanpa teman mengobrol.
Jika sudah timbul gejala berikut, artinya pengemudi wajib minggir dan beristirahat walaupun hanya 1-2 jam:
- Kelopak mata mulai berat
- Sering menguap
- Tidak ingat beberapa kilometer atau patokan terakhir
- Terlambat mengerem
- Sering keluar jalur
Panduan Kota Transit Jakarta-Medan via Lintas Timur Sumatera untuk Perjalanan Cepat
5. Malam Hari: Lebih Sejuk dan Sepi, Tapi Punya Tantangan Tersendiri

Mengemudi tengah malam memang suasananya lebih sejuk dan sepi. Di momen inilah biasanya para pengemudi meningkatkan kecepatan kendaraannya, padahal tantangan berikut harus mereka hadapi.
- Penerangan tidak selalu baik, terutama di daerah kurang padat penduduk.
- Lebih sulit mencari bantuan jika terjadi masalah: bengkel jauh, SPBU jauh, sinyal kurang baik
- SPBU atau tempat makan tertentu mungkin tutup
- Hewan melintas di beberapa daerah
Dalam hal ini, pengemudi bukan hanya harus segar dan fit. Pengemudi juga dituntut untuk fokus dan dapat menguasai dirinya, untuk mencegah terjadi sesuatu yang lebih buruk.
6. Kapan Mengemudi Tengah Malam Jadi Pilihan Terbaik?
Sudah Tidur Beberapa Jam Sebelumnya
Tidur beberapa jam sebelum berangkat penting untuk meningkatkan stamina dan fokus pengemudi. Namun, banyak orang sering melupakan ini, apalagi sebelumnya baru bekerja seharian.
Tak jarang beberapa jam sebelum berangkat dimanfaatkan untuk beres-beres barang. Padahal ini bisa dilakukan sehari sebelumnya, agar pengemudi punya waktu cukup untuk tidur.
Ada Pengemudi Pengganti
Peran supir/pengemudi pengganti sangat vital di perjalanan malam. Supir utama dan supir kedua dapat saling bergantian mengemudi jika merasa lelah.
Fisik Sedang Prima
Kondisi tubuh yang kurang sehat bisa menimbulkan kantuk, menurunkan fokus, dan berpotensi terjadi hal-hal tak diinginkan.
7. Kapan Sebaiknya Tidak Memaksakan Diri?
Pertimbangkan untuk tidak melakukan perjalanan malam apabila mengalami hal-hal berikut:
- Fisik kurang sehat
- Baru pulang kerja, tidak sempat tidur
- Membawa anak kecil sendirian
- Merasa mengantuk bahkan sebelum berangkat
8. Perbandingan Beberapa Waktu Keberangkatan
| Waktu | Kelebihan | Tantangan |
|---|---|---|
| Tengah malam (22.00 – 01.00) | – Jalan lebih lengang – Udara lebih sejuk – Memungkinkan tiba saat pagi hari | – Risiko kantuk – Kurangnya visibilitas |
| Dini hari (02.00 – 05.00) | – Jalan cukup lengang – Udara paling sejuk | Berpotensi ketemu lalu lintas pagi (berangkat kerja) |
| Pagi hari (07.00 – 09.00) | Tubuh sudah segar setelah tidur malam cukup | Kemacetan di kota besar dan ruas tertentu |
| Siang hari | Visibilitas baik | – Cuaca lebih panas – Kepadatan lalu lintas – Berpotensi tiba malam hari di tujuan yang jauh |
9. Tidak Ada Jadwal Keberangkatan yang Paling Benar
Baik keberangkatan siang maupun malam hari memiliki keunggulan tersendiri.
Keberangkatan malam hari cocok untuk mendapatkan udara sejuk, lalu lintas lengang, serta memungkinkan untuk tiba di tujuan pada pagi hari.
Keberangkatan siang hari cocok untuk perjalanan yang lebih santai, menikmati pemandangan, serta fleksibel untuk berkunjung ke tempat tertentu.
Penutup
Perjalanan yang aman bukan hanya ditentukan oleh kondisi jalan, melainkan juga oleh kondisi pengemudinya. Karena itu, sebelum mengikuti saran untuk berangkat tengah malam, kenali dulu apakah ritme tubuh Anda memang mendukung keputusan tersebut. Ingat untuk tidak memaksakan diri berangkat tengah malam. Jalan yang lebih lengang memang mengurangi satu jenis risiko, tetapi bukan berarti menghilangkan semua risiko.